FREEMIND : MIND MAPPING SOFTWARE
Freemind adalah mind mapping software yang cukup powerfull yang membuat mind mapping Anda menjadi lebih organized, cepat, mudah dan tentu saja murah (gratis). Freemind berbasis opensource, dan Anda tidak perlu membelinya untuk mendapatkan dan menggunakannya.
Freemind merupakan alat mind mapping yang simpel, ditulis dengan Java, oleh Jörg Müller. Freemind adalah aplikasi Java untuk pemetaan pikiran (mind-mapping) yang dapat berjalan pada semua sistem operasi yang memiliki Java Runtime Environment (JRE) 1.4 atau lebih, sehingga FreeMind dapat dijalankan tak hanya di sistem operasi Windows, tetapi juga Linux dan Mac OS. Untuk dapat menjalankan FreeMind di komputer, sebelumnya perlu terpasang Java Runtime Environment (JRE).
Hingga saat ini telah tersedia Freemind versi 0.9.0 Beta 20 dan Besta RC3. Sebelum ini ada Freemind versi 0.8.0 dan 0.8.1. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara versi 0.8.0 dan 0.9.0, kecuali pada tampilan node dan edge. Pada Freemind versi 0.8.0 edge menempel pada ujung kiri dan kanan Node Parent (Induk) yang berbentuk oval. Sementara Freemind versi 0.9.0 edge dapat berada di kiri, kanan, atas atau bawah dari Node Parent. Perbedaan yang lain adalah jumlah ikon yang lebih banyak di Freemind veri 0.9.0. Ke depan Freemind versi baru akan terus berkembang seiring dengan banyaknya kontributor dalam pengembangan Freemind. Kita tunggu untuk versi-versi terbaru dari Freemind dalam 1 tahun ke depan.
Kegunaan Freemind
FreeMind merupakan aplikasi yang sangat bagus untuk membuat mind map. Mind maps menunjukkan diagram hirarki, menggunakan node dan garis, yang ditampilkan secara grafis. Mind map adalah alat pengorganisasian pengetahuan yang digunakan untuk memancing ide dari satu atau lebih orang. Kegunaan utama aplikasi mind mapping adalah mengorganisir, mengaitkan, dan mengintegrasikan pikiran-pikiran. Fokus utama sebuah peta pikiran yaitu pengaturan hubungan antara kata dan gambar, dimana konsep utama diletakkan di tengah atau bagian atas halaman sementara kata-kata atau konsep-konsep cabang dikaitkan dengan konsep utama dengan bantuan garis dan panah.
Aplikasi mind mapping juga dapat digunakan untuk mencurahkan ide (brainstorming), dimana ide-ide dapat ditulis, ditata, dikembangkan dan dihubungkan. FreeMind juga dapat digunakan sebagai tree editor yang dapat membuat tree yang dapat dilipat dan diperkaya dengan warna, ikon, bentuk awan, dan bentuk lainnya dari sebuah catatan teks biasa. Hal ini sangat membantu dalam nembuat peta pikiran, misalnya bentuk awan dapat digunakan untuk mengelompokkan ide-ide yang saling berhubungan, warna yang berbeda dapat digunakan untuk menandai tugas yang sudah dikerjakan dan yang belum dikerjakan, ikon dapat digunakan untuk menandai tingkat prioritas, dan sebagainya.
Freemind sangat berguna untuk mengorganisasikan ide-ide Anda dan untuk menjaga tetap pada track dari tugas-tugas yang harus diselesaikan. Anda dapat menggunakan Freemind untuk mengelola pengetahuan dengan mudah. Anda dapat mengambil keuntungan dari pendekatan metode ilmiah dan menulis segala sesuatu dalam kehidupan Anda sehari-hari. Freemind adalah alat yang bernilai dan efektif untuk siapa saja yang ingin mengelola diri mereka sendiri secara sistematis dan efektif.
FreeMind dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bidang, antara lain:
- Proyek – FreeMind membantu memantau perkembangan suatu proyek, meliputi sub-subtugas, tahap-tahap perkembangan pengerjaan subtugas, dan pencatatan waktu.
- Informasi – FreeMind membantu mengelola informasi, dengan kemampuan membuat pautan (link) ke berkas-berkas yang berkaitan, berkas yang dapat dieksekusi, dan berbagai sumber informasi.
- Riset berbasis Internet – FreeMind membantu dalam melakukan riset/penelitian menggunakan Internet, misal Google atau search engine yang lain.
- Basis Pengetahuan – FreeMind membantu mengelola catatan-catatan berukuran kecil atau menengah, dengan link di beberapa tempat yang dapat berkembang jika diperlukan. Kumpulan catatan-catatan seperti ini sering disebut sebagai sebuah basis pengetahuan.
- Essay – FreeMind dapat membantu dalam penulisan essay atau karya ilmiah dan pencurahan ide-ide (brainstorming), menggunakan warna-warna untuk menunjukkan essay mana yang sedang, telah selesai, atau belum mulai dikerjakan.
- Database – FreeMind membantu memelihara database kecil dengan struktur yang sangat dinamis atau tidak diketahui kelanjutan.
- Favorit di Internet – FreeMind membantu mengelola catatan favorit di Internet atau bookmark dengan menggunakan warna dan font yang bermakna bagi kita.
Fitur-fitur Freemind
Kelebihan Freemind terletak pada interface-nya yang sederhana dan intuitif yang membuat aplikasi ini mudah digunakan dan dipahami.
Freemind (versi 0.9.0) memiliki sekumpulan fitur yang menarik, diantaranya:
- Folding – merupakan kemampuan FreeMind untuk menyembunyikan atau menampilkan informasi di bawah objek terpilih dengan kontrol yang mudah.
- Navigasi dengan sekali klik – Navigasi ke banyak fitur hanya dengan sekali klik saja, misalnya: membuka/menutup lipatan (fold) dan membuka lipatan (unfold) dan kemudian menghubungkannya (link) dengan satu kali klik pada waktu yang sama. Anda juda dapat menggeser peta dengan menyeret (drag) latar belakang peta atau dengan menggunakan roda mouse.
- HTML Links – HTML Link dapat disimpan di node, termasuk link ke World Wide Web atau file lokal saja.
- Menggunakan Undo – Fitur Undo digunakan untuk menghilangkan efek menu option yang dilakukan sebelumnya.
- Smart Dragging dan Dropping – misalnya menyalin (copy) sebuah node atau style node; men-drag dan men-drop node yang terpilih, meletakkan teks atau daftar file dari luar.
- Smart Copying dan Pasting – Fitur ini membantu mem-paste link-link dari HTML atau menata isi yang di-paste di depan atau atas sebuah garis; atau mem-paste daftar file-file terpilih.
- Ekspor peta sebagai HTML – Fitur ini mengkonversi peta pikiran ke sebuah standar struktur teks berhirarki.
- Menggunakan Fasilitas Find – Fitur ini dapat mencari di dalam peta berdasarkan suatu kata kunci kemudian menampilkan item-item yang ditemukan satu per satu dengan memilih pilihan find next. Peta dibuka lipatannya pada item-item yang ditemukan saja.
- Menggunakan Ikon-ikon Built-in – Ikon-ikon bawaan (built-in) Freemind dapat digunakan dengan warna-warna dan font yang berbeda untuk menghiasi node.
- Menyimpan peta dalam format XML – Freemind memamerkan biaya rendah dari resiko berpindah ke aplikasi mind mapping yang lain, karena Freemind menyimpan peta (map) dalam format XML.
- Menggunakan File Mode – File Mode dapat digunakan untuk menjelajah (browse) berkas-berkas di dalam komputer Anda, melihat struktur folder sebagai sebuah peta pikiran.
Di bawah ini merupakan contoh sederhana dari suatu mind map:

Gambar Contoh Tampilan Mind Map Menggunakan Freemind
Mendapatkan Freemind dan Tutorialnya
Untuk mendapatkan Freemind dan Tutorialnya, Anda dapat mendownloadnya via internet. Tapi bila kesulitan kini telah terbit bukuFreemind: Mind Mapping Software (+ CD Freemind Application, JRE dan contoh-contoh mind map dengan Freemind) karya Bagus Taruno Legowo, seperti nampak pada gambar berikut :

Harga buku hanya Rp. 42.000,-. Jika Anda berminat membeli Anda dapat menempuh 2 cara:
- Datang ke Toko-toko Buku, seperti Gramedia, Togamas, atau Gunung Agung, dan lain-lain.
- Transfer ke No. Rek. 0880312227 a/n Bagus Taruno Legowo, kemudian konfirmasi via sms ke 08993838180 dengan format: [Nilai Transfer (tambahkan 3 angka terakhir no hp Anda) / No. Rek. dan atas nama rek / Alamat pengiriman / Kota / email Anda]. Ketentuan ongkos kirim diatur sebagai berikut :
- Bebas ongkos kirim (untuk Surabaya)
- Rp. 10.000,- (untuk Anda yang berada di Jawa Timur)
- Rp. 20.000,- (untuk Anda yang berada di luar Jawa Timur)
Konfirmasi balik dari saya, akan saya kirim via sms dan email.
“Jadikan diri Anda sebagai bagian dari lebih dari 300 Juta orang di seluruh dunia yang menggunakan mind map sebagai thinking tools dalam kehidupan mereka. Dengan membeli buku ini, berarti Anda memberi kontribusi turut mencerdaskan kehidupan bangsa, sebab mind mapping dengan freemind ini akan menjadikan diri Anda pribadi yang lebih organized, cerdas, kreatif dan inovatif. Salam Cerdas.”
Mengapa Mind Map Perlu dan Harus Diajarkan ke Setiap Orang Bahkan Sejak Balita (PAUD)?
Mind Map atau Peta Pikiran adalah tools otak yang sebenarnya sangat powerfull. Bila tubuh memerlukan olah raga, maka otak kita memerlukan mind map ini. Orang-orang menyebutnya dengan Brain Gym (Senam Otak).
Beberapa waktu lalu, sesaat setelah saya mengajar mind map pada satu komunitas dokter, ada yang bertanya, mind map ini sebenarnya untuk siapa?
Pertanyaan yang sederhana, tetapi cukup mendasar.
Sebelum saya menjawab, saya ingin bercerita sedikit tentang sejarah Mind Map.
Mind Map ditemukan oleh Tony Buzan, seorang Psikolog berkebangsaan Inggris pada awal 1970-an. Tony Buzan terilhami oleh pengalamannya pada saat beliau masih kuliah yang juga dialami oleh sebagian besar teman-temannya, dimana beliau dan teman-temanya itu merasakan kesulitan-kesulitan dalam belajar. Mereka sering mengalami ketinggalan mencatat, lupa dengan pelajaran yang baru diajarkan, kesulitan menangkap inti dari pelajaran, lambat dalam membaca, dan sebagainya.
Pengalaman dan kesulitan pada saat kuliah ini kemudian menemukan solusinya setelah Tony Buzan mempelajari perkembangan mutakhir dari bidang ilmu neuroscience, seperti karya dari Roger S. Sperry, seorang pemenang Nobel karena temuan tentang kompetensi otak, yang menyimpulkan bahwa ternyata otak kita terdiri dari dua belahan (hemisphere), yakni otak kiri dan otak kanan dengan kompetensi yang berbeda. Otak kiri memiliki kompetensi lebih ke akademik, seperti logika, bahasa, matematika, sekuensial, struktural dan analitis. Sementara otak kanan memiliki kompetensi lebih ke ritmik, visual, imajinatif, intuitif, kreativitas, dan sintesis.
Neuroscientist lain yang temuannya berpengaruh pada konsep mind map adalah Robert Ornstein, yang memaparkan struktur otak manusia yang terdiri dari Bern Sterm (Otak Reptil), Limbic Systam (tempat emosi), dan Neocortex (tempat berpikir), serta bagaimana otak manusia bekerja.
Tidak kalah pentingnya adalah pengetahuan yang lebih detil tentang morfologi sel syaraf (neuron), komunikasi sel syaraf, jumlahnya yang sangat fantastis, yakni 100 M – 1 Trilyun Neuron, serta perilakunya pada saat otak kita sedang bekerja (berpikir, mengingat, membaca, menulis, bekerja).
Berdasarkan itu, Tony Buzan mengembangkan sebuah teknik mencatat, yang kemudian disebutnya dengan Mind Map. Bentuk Mind Map serupa dengan bentuk sebuah sel syaraf, dimana topik utama adalah inti sel, kemudian cabang-cabang dari topik utama tadi adalah dendrit-dendrit dan akson-akson yang keluar dari inti sel.
![]()

Sel Syaraf Contoh Mind Map
Konsep Mind Mapping ini menjadi makin kuat dan disuka, setelah diketahui pula, ternyata tokoh-tokoh penting dunia, seperti Leonardo da Vinci, Newton, Darwin, Marie Curie, Thomas Jefferson, dan banyak lagi yang lainnya, juga menggunakan pola-pola mind map untuk mencatat hasil-hasil riset mereka, gagasan-gagasan penting, temuan-temuan atau pemikiran-pemikirannya.
Itulah perjalanan dari Mind Map, dimana awalnya adalah sebagai teknik mencatat. Bobby de Porter, dalam bukunya Quantum Learning, menyebutnya dengan Teknik Mencatat Tingkat Tinggi. Ketika, Quantum Learning diterjemahkan ke Bahasa Indonesia sekitar akhir 80-an atau awal 90-an, masuklah Mind Map ke Indonesia secara “perlahan”.
Tapi hingga lebih dari 10 tahun, perkembangan Mind Map di Indonesia kurang begitu menggembirakan, karena :
- Mind Map masih dilihat sebagai teknik mencatat, seperti diasosiasikan pada buku Quantum Learning.
- Kesederhanaan Mind Map, membuat banyak orang kurang tertarik, dan melihatnya hanya berguna untuk anak-anak dan pada saat di sekolah saja.
- Pemerintah kita kurang care pada teknologi pengjaran atau teknologi belajar cara belajar (learn how to learn).
Praktis, Mind Map di Indonesia sangat ketinggalan dibanding di Eropa, Amerika dan Jepang, bahkan Singapura. Di negara-negara di Eropa, Amerika, Jepang dan Singapura, Mind Map, menjadi ketrampilan wajib siswa-siswa sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi.
Sementara pemerintah kita masih berkutat dan ribut sendiri dengan soal ujian nasional perlu atau tidak, kurikulum yang sering gonta-ganti. Mendiknas ganti, kurikulum ya ganti. Sementara, kurikulum kita masih condong kepada konsumsi pengetahuan, yang pengajarannya pun lebih banyak dengan menghafal. Karena itu, pendidikan di Indonesia tidak maju-maju. Kalau toh, ada putra-putra Indonesia juara di ajang olimpiade science internasional, itu bukan karena hebatnya sistem pendidikan kita.
Dengan kurikulum yang ada sekarang, sangat diragukan dapat mendorong bangsa kita berkontribusi untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Teknologi pengajaran, learn how to learn, seperti Mind Map, kurang mendapat perhatian yang memadai. Padahal, Mind Map, sebagai tools otak yang mampu meningkatkan kapasitas otak, telah teruji dan terbukti sangat powerfull. Bahkan, perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Boeing, GE, Microsoft, Oracle, HSBC, dan banyak lagi yang lain menggunakan Mind Map untuk menunjang proses bisnis di perusahaan itu. Semua karyawan-karyawannya menguasai Mind Map, dan menjadi bagian dari kurang lebih 300Juta user di seluruh dunia.
Kembali ke Mind Map, dalam perkembangan lebih lanjut, ternyata Mind Map bukan saja teknik mencatat yang handal. Oleh penemunya, diyakini berdasarkan pengalaman puluhan tahun, Mind Map mampu mentransformasikan seseorang dari ordinary people menjadi extra-ordinary people.
Koq bisa?
Ya, karena Mind Map melibatkan kedua belah otak kita. Apabila kedua belah otak, otak kiri dan otak kanan, terlibat secara bersama-sama pada saat kita berpikir atau mencari solusi saat menghadapi masalah, sesungguhnya kita sedang berpikir seperti komputer yang super canggih. Seseorang akan, meminjam Bobby de Porter, mengalami lompatan (quantum) sehingga menjadi lebih kreatif, inovatif, daya ingat lebih kuat, dan tentu saja pada akhirnya tidak gampang putus asa. Sesuatu yang sangat dibenci oleh Tuhan.
Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, jawabannya adalah bahwa Mind Map perlu dan harus diajarkan atau dipelajari oleh siapa saja, berapapun usianya, bahkan sejak usia sedini mungkin, termasuk Balita (tentu dengan teknik-teknik tertentu).
Dengan mengenalkan Mind Map sejak dini yang dilanjut pada SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, dan seterusnya, hal itu akan dapat memelihara tingkat kreativitas seseorang hingga dapat bertahan lama.
Penelitian (Tony Buzan, 2009) menyatakan bahwa tingkat kreativitas seseorang menurun seiring dengan bertambahnya usia. Saat masih bayi, tingkat kreativitasnya masih sekitar 95%. Saat usia SD tingkat kreativitas menurun menjadi 75%. Di usia SMP, menurun lagi menjadi 50%. Di usia SMA, tingkat kreativitas seseorang tinggal 25%. Dan pada saat mereka masuk perguruan tinggi, menurun lagi menjadi sekitar 10%. Itu sebabnya, kita sangat tidak produktif.
Bagaimana menurut Anda?
btlegowo.wordpress.com
mindmapworld.wordpress.com
DETIK-DETIK PROKLAMASI Source : Creator of Rumah Pancasila Groups on Facebook
SEJARAH PROKLAMASI ( bagian ke III)
Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia ( Hatta, 1970:53 ).
Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.
Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.
Marwati Djoened Poesponegoro ( 1984:92-94 ) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat sebelum membacakan teks proklamasi.
“Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu“. ( Koesnodiprojo, 1951 ).
Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: ” lebih baik seorang prajurit ,” katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.
Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.
Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi ( 1984:77 ) mengemukakan bahwa ada sepasukan barisan pelopor yang berjumlah kurang lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu Bung Karno tidak sampai hati, ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.
Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan menunggu di ruang belakang, tanpa diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga terpaksa berpakaian lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: ” Kami diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi .” ” Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Bung Karno dengan tenang. ” Sudahkah ?” tanya utusan Jepang itu keheranan. ” Ya, sudah !” jawab Bung Karno. Di sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar ( saat itu belum ada rol film ). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada 3 ( tiga ) ; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, dan sebagian foto hadirin yang menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah itu.
DETIK-DETIK PROKLAMASI Source : Creator of Rumah Pancasila Groups on Facebook
SEJARAH PROKLAMASI (bagian II)
Merumuskan Teks Proklamasi Kemerdekaan
Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo ( 1978:60-61 ) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.
Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia; kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo. Melalui kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak sedikit baginya, ia mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia . Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.
Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco ( kepala pemerintahan umum ), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah menyatakan menyerah kepada Sekutu, maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo . Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis kebi ¬ jakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde ¬ kaan. Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicara¬kan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya berharap agar pihak Jepang tidak menghalang-ha ¬ langi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri ( Hatta, 1970:54-55 ).
Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun dari golongan pemuda, menunggu di serambi muka.
Menurut Soebardjo ( 1978:109 ) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam, rumusan teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan ( transfer of sovereignty ). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.
Setelah kelompok yang menyendiri di ruang makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo ( 1978:109-110 ) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, yang telah disiapkan sebelumnya oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya bercampur dengan beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri di samping saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka pertemuan dini hari itu dengan beberapa patah kata.
“Keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing“. Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad Hatta dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence ” Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang tidak setuju kalau tokoh-tokoh golongan tua yang disebutnya “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu diterima oleh hadirin.
Naskah yang sudah diketik oleh Sajuti Melik, segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan timbul mengenai bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan kepada rakyat di seluruh Indonesia , dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut Soebardjo ( 1978:113 ), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong-bondong ke lapangan IKADA pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi Soekarno menolak saran Sukarni. ” Tidak ,” kata Soekarno, ” lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden ? Lapangan IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.
DETIK-DETIK PROKLAMASI Source : Creator of Rumah Pancasila Groups on Facebook
SEJARAH PROKLAMASI (bagian I)
Menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-64 pada tanggal 17 Agustus 2009 dua hari lagi akan kita peringati , sebagai anggota Rumah Pancasila kira nya kita perlu mengetahui dan mengingat kembali sejarah yang sangat penting bagi perjalanan bangsa ,”bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah tentang Detik-Detik Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945
Perdebatan Antara Golongan Tua & Golongan Muda
Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.
Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan tua yang mendorong mereka melakukan “aksi penculikan” terhadap diri Soekarno-Hatta ( lihat Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81 )
Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi ( 1984:58 ); Ahmad Soebardjo ( 1978:85-87 ) sebagai berikut:
” Sekarang Bung, sekarang! malam ini juga kita kobarkan revolusi !” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ” Kita harus segera merebut kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. ” Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !” seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; ” Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”
Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata: ” Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana; “… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu ?”
Namun, para pemuda terus mendesak; ” apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam ‘Perang Sucinya ‘!”. ” Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla¬masikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyata¬kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa ?”. Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya ? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “. Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.
Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.
Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi ( 1984:60 ). Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.
Rengasdengklok kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA ( Pembela Tanah Air ) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.
Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta . Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri. Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; ” Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. ” Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.
Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 “. ” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. ” Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi ( 1984:61 ).
Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta ( Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:82-83 ).
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!